Kamis, 13 November 2008

Catatan Atas Pentas Teater Keluarga `Racun Tembakau`


Racun Tembakau Gaya Testimoni

Radar Surabaya, 25 Oktober 2008
HETI PALESTINA YUNANI


PERGELARAN berlangsung Sabtu (25/10) malam ini pukul 19.30 di Ruang 314 Gedung Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair). Digarap dua sutradara, S Jai dan F Aziz Manna yang sekaligus menjadi aktor, RT disajikan dengan konsep estetik dan artistik model testimoni.
Cerita berdurasi 60 menit yang menokohkan Harman itu dipenuhi kesaksian para tokohnya.Utamanya pengakuan Harman yang merasa ditekan kepentingan si istri. ’’Saya ini sengsara. Saya menderita sudah 30 tahun lamanya hidup dari jerih payah karena dipekerjakan istri,’’ungkap Harman, dalam salah satu dialog.
Dalam banyak tuturan yang mirip testimoni itu, Harman bercerita bagaimana ia melakukan tugas-tugas yang mestinya dilakukan sang istri, seperti memasak dan menjaga anak.
Kemarin, latihan terakhir digelar Teater Keluarga di belakang Perpustakaan Unair. Tak ada kesulitan buat Aziz sebagai aktor, karena karya ini sudah beberapa kali ia tonton dan baca naskahnya setelah diadaptasi kembali oleh beberapa penggiat teater.
Aziz yang penyair itu berupaya menghadirkan Harman memaknai istrinya layaknya rokok. Demikian sebaliknya, seolah saling mengancam. ’’Kami membuat RT mengisahkan banyak keburukan dan gangguan kejiwaan untuk mencerahkan diri sendiri,’’ papar S Jai.
Soal setting, Jai dan Aziz lebih banyak menggunakan benda-benda absurd. Misal, pemakaian tas besar dan kotak rokok yang besar untuk menumbuhkan permainan visual yang sudah terbebani kata-kata ungkapan yang lebih banyak berbicara tentang kegelisahan.
Kegairahan mereka berdua juga tampak keterlibatan orang-orang maupun komunitas dan lembaga selaku kontributor gagasan demi pengutuhan konsep teater. Di antaranya ada nama Mashuri, Indra Tjahyadi dari FS3LP (Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar, CeRCS (Center for Religious and Community Studies), mantan aktivis Sardiyoko, dan diperkuat aktor-aktor dari Teater Gapus. Tak hanya itu, pentas juga disokong belasan lembaga pemberdayaan di Surabaya.
Keseriusan penggarapan itu, terkesan dari usaha adaptasi yang dilakukan S Jai ini dari naskah On the Harmful Effects of Tobacco karya Anton Cekov melalui terjemahan Jim Adhi Limas.
Drama ini berkisah tentang seorang suami berumur, bercambang panjang tapi dipingit. Namanya Harman. Ia perokok berat. Dia pria yang selalu merasa tertekan oleh istrinya, yang punya sekolah musik partikelir dan indekos buat anak perempuan. (*)

Minggu, 10 Agustus 2008

Media Sastra Alternatif di Surabaya

Puisigelap
Hanya Untuk yang Mau Berpikir

Ihwal media

Puisigelap adalah media yang digawangi beberapa kepala yang selama ini menghuni ‘Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar’: Indra Tjahyadi (Pimpinan Redaksi), Ribut Wijoto, F Aziz Manna, M. Aris dan Mashuri. Didukung sepenuhnya oleh S Jai. Puisigelap merupakan media sastra nirlaba, bentuk fotocopian, dan dicetak terbatas. Isinya menawarkan sebuah cara bersastra yang tidak gampangan (atau, meski remeh-temeh tapi berkonsep). Sebagaimana nama Puisigelap, media ini berpihak pada karya-karya gelap (prosa, puisi, naskah drama, esei, resensi) yang penyajian/isinya tidak mungkin dimuat di media-media biasa. Media ini dwi-bulanan dan diluncurkan pada 8 Agustus 2008.

Daftar Isi Edisi I

1. Kenapa Harus Ada Gelap (Tim Redaksi)
2. Antilirik (Ribut Wijoto/esei)
3. Puisi dan Kecabulan: Baudelaire dan Swinburne (Richard Sieburth-University of New York /terjemahan)
4. Beberapa Aspek ‘Kuasa Kegelapan’ Lu Hsun (T. A. Hsin-Associate Research Linguist di University of California /terjemahan)
5. Mimpi dan Fantasi Radikal (Mashuri/esei)
6. Puisi-puisi (F Azis Manna)
7. Prosa (nukilan novel Ben Okri-terjemahan Indra Tjahyadi)


Semacam Konsep

Pengarang yang menulis dengan mempertimbangkan pembaca, pada hakekatnya, telah melakukan bunuh diri kreatif sia-sia. Karyanya tak lebih sebagai laku merendahkan pembacanya, sekaligus membungkus diri pengarang dan kecerdasannya dengan kain kafan karyanya.
Sesungguhnya bukan pada pembaca pengarang harus bertaruh, tapi ia bertaruh pada sejarah. Tolok ukurnya: sejauh mana ia mampu menukik ke lubuk hayat: mencecap yang tersimpan di balik yang tampak, lalu mengunduh dan memikirkannya. Pengarang pun tak bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Ia hanya bertanggung jawab bagaimana karya itu terwujud, meski dalam kondisi compang-camping, setengah jadi, maupun gelap. Pengarang bukan hanya seorang penyelam atau akrobatik saja, karena intensitas, integritas dan kaul diri sebagai penghamba aksara-kata, adalah pemandu yang lincah untuk berselancar dalam wilayah nir, teler ilham dan bias antara kesadaran dan ketaksadaran; sebuah apokaliipsa yang setengah mampus ingin dipertahankan, agar wilayah ambang tetap merujuk pada sirkulasi pengetahuan yang jujur, murni dan tak berpihak ---kecuali pada kebenaran asal…
Gelapkah? Pengarang tak peduli. Pada dasarnya, ia telah mengalami suatu ekstase, pencerahan yang berulang-ulang, yang bisa membedakan dan memberi jarak antara yang profan-sakral, bentuk-isi, gelap-terang, ia telah berada di dasar sekaligus di puncak, ia berada di dalam sekaligus di luar bahasa…
Jika ada yang menyangka, karyanya sebagai karya gelap, sekaligus laku edan dalam bersastra, ia pun menganggap ITU hanya satu perspektif sia-sia. Tanda keawaman dan ‘maqam/derajat’ yang masih menapak pada pengetahuan awam dan massal.
Bagamanapun sebutan ‘gelap’, telah menjadi marka yang berpalung ambigu. Satu sisi, ia dianggap wilayah samun, berbahaya, penuh ranjau, jebakan, jalan sesat bercecabang, dihuni para hantu. Di sisi lain, ia diberi satu vonis: tak terpahami, ngawur dan selalu diperlawankan dengan benderang. Tetapi sungguh vonis itu sama tergesanya seperti seorang perempuan muda yang ingin menuntaskan coitusnya dengan sang pacar, tapi sang bapak berteriak-teriak di telinganya.
Karya gelap ---yang menuntut pembacanya (tidak semua pembaca) yang sabar dan berpikir, mengungkai rajutan kalam yang berpusar pada sastra-buta (bagi pandangan awam), bawah sadar yang nanar, dan celah jiwa yang terbelah, memori terpenggal, menolak dibaca oleh pembaca yang malas dan manja, mengaburkan fakta-fiksi, dan lain-lainnya--- adalah harta karun terpendam.
Puisigelap akan memberi ruang pada karya-karya itu, ide-gagasan, buah pikiran tentang sastra yang berpatok pada satu hal: manusia dan karyanya tidak mudah dipahami, manusia dan karyanya lebih sulit dipahami daripada mendedah pertemuan ‘payung’ dan ‘mesin jahit’, atau ‘bunga’ dan ‘tai’, atau ‘kaktus’ dan ‘anus’.
Puisigelap akan mendedah karya yang dihasilkan dari intensitas dan integritas menyuntuki ‘dunia’ yang dihindari oleh pengarang-pengarang yang merasa diri ‘mapan’.
Puisigelap, memang media ‘hanya untuk yang mau berpikir’.

Minggu, 22 Juni 2008

Festival Seni Surabaya: Mengangankan Kualitas dalam Rutinitas

Festival Seni Surabaya telah berakhir awal pekan ini. Semaraknya pun tak lagi tersisa. Tapi yang terus saja menjadi pertanyaan setiap kali ajang ini berlangsung adalah apa yang dihasilkan festival itu selain sebagai acara rutin tahunan belaka.
Beragam suguhan ditampilkan festival yang juga bersamaan dengan momentum 100 tahun Kebangkitan Nasional itu. Tak hanya para seniman lokal, tapi juga dari Jakarta, Solo, Yogyakarta, Bandung, bahkan Prancis. Namun, festival yang diselenggarakan sejak 1995 itu belum bisa disebut berhasil untuk membangkitkan Surabaya sebagai kota seni di tengah gemuruh industri.
Kendati demikian, seperti dituturkan Cak Kandar, idealisme menjadikan Surabaya barometer berkesenian, menjadikan acara tahunan itu terus bertahan meski panitia penyelenggara harus jatuh-bangun mempertahankan agar event ini tetap terselenggara. “Kami ingin membangun citra Surabaya sebagai barometer berkesenian,” katanya.
Festival yang kali ini bertema “Tribute to Surabaya” itu memberi ruang yang besar bagi seniman lokal. Dan dari sisi jumlah, memang mereka lebih banyak ketimbang seniman luar. Kurator yang melakukan seleksi telah berupaya keras agar festival tidak saja meningkat dari sisi kuantitas, tapi juga kualitas. Dalam istilah Cak Kandar, “Agar seniman lokal tidak hanya menjadi penikmat dan penonton.”
Dalam festival tahun ini, 70 persen penyaji memang berasal dari Surabaya dan kota lainnya di Jawa Timur. Bahwa tampil pula sejumlah seniman besar dari luar Surabaya dan Jawa Timur, bahkan seniman asal Prancis, tidak dimaksudkan untuk menafikan bobot para seniman lokal. Justru penting bagi keberagaman serta bahan komparasi. “Hal itu penting sebagai bahan referensi bagi seniman dan masyarakat Surabaya,” ujar Cak Kandar pula.
Toh pada kenyataannya festival kali ini kian mengukuhkan para seniman muda, seperti penyair Indra Tjahyadi, Mashuri, A. Muttaqin, Denny Tri Aryanti, dan F. Aziz Manna.
Selain menyuguhkan karya puisinya masing-masing, keberadaan kelima penyair itu diagendakan khusus dalam diskusi sastra dengan tema “Lima Penyair Menebus Kota”. Dan oleh banyak tokoh penyair, kelima anak muda itu bakal setara dengan jajaran penyair nasional. Karya mereka sudah berkali-kali menembus halaman media nasional.
Sebagai sebuah perhelatan, festival kali ini pun tak luput dari persoalan klasik: dana. Meski telah disiapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pemerintah Kota Surabaya, panitia tetap saja harus pontang-panting mengakalinya agar festival bisa terlaksana dengan baik. “Sering kali ketua panitia harus nalangi dulu. Cak Kadaruslan pernah harus menggadaikan rumahnya agar event ini bisa terselenggara,” ujar Cak Kandar, yang mengaku harus merelakan delapan lukisannya untuk membiayai festival kali ini.
Dana dari pemerintah baru diberikan akhir Mei. Padahal berbagai persiapan festival sudah dilakukan sejak awal tahun. Setali tiga uang dengan dana dari sponsor, yang juga tak kunjung cair meski festival telah berlangsung. “Sesuai kontrak, para penampil sudah harus dibayar begitu mereka selesai tampil,” kata Cak Kandar pula.
Kendala dana pulalah yang menyebabkan panitia menerima karya yang ditampilkan seniman meski keluar dari tema. Sebab, butuh dana yang besar jika terlalu ketat pada persyaratan.
Meski demikian, Cak Kandar mengajak masyarakat Surabaya memberikan apresiasi yang baik kepada pelaksanaan festival. Menurut dia, perhelatan semacam ini bukan sekadar acara rutin tahunan. Toh ajang ini, menurut dia, telah melahirkan para perupa baru. “Seniman yang bisa tampil di festival melewati seleksi yang ketat,” katanya. YEKTI HM

Dikenal Secara Nasional, tapi Asing bagi Masyarakat Lokal

Fatkhul Aziz Manna adalah salah seorang penyair muda yang nama serta karyanya banyak dibicarakan dalam Festival Seni Surabaya.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Airlangga ini kini aktif di Forum Studi Seni dan Sastra Luar Pagar, sebuah komunitas seniman Surabaya. Pernah pula menjadi pengurus Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya. Sewaktu kuliah, dia adalah salah seorang aktivis Gardu Puisi Sastra (Gapus), unit kegiatan kesenian di kampusnya.
Karya puisi lelaki kelahiran Sidoarjo, 8 Desember 1978, itu sudah banyak bertebaran di berbagai media lokal hingga nasional, di antaranya Tiga Penggal Surat. Karya ini pun bahkan pernah diulas dan dibacakan di sebuah radio berbahasa Indonesia di Jerman, Deutch Welle.
Ayah seorang anak, Fouqo Alvina Wardah Putri Aziz, ini sudah sejak kecil menggeluti dunia menulis. Kini namanya sudah mulai disejajarkan dengan sastrawan lokal maupun nasional.
Karyanya, yang dikenal dengan penggunaan bahasa yang kritis serta lugas, ada yang telah dibukukan. Salah satunya dalam Antologi Puisi Festival Mei, Bandung. Dua puisi yang masuk antologi itu adalah Paku dan Sajak Kartu.
Meski nama maupun karyanya menjadi pembicaraan di perhelatan Festival Seni Surabaya, tidak serta-merta dia gembira.
Ia bahkan kecewa lantaran perhelatan kali ini semakin sepi penonton. “Tahun lalu masih lebih semarak,” katanya kepada Tempo kemarin.
Penyair yang juga wartawan ini juga menyayangkan ketidakmampuan panitia menggalang penonton. Kelemahannya, katanya, pada sisi publikasi. Akibatnya, tujuan memperkenalkan seniman lokal jauh dari harapan. “Padahal kemampuan mengemas dan memperkenalkan penyaji lokal sangat diperlukan untuk mengangkat popularitas seniman lokal,” kata pengagum Sapardi Djoko Damono itu.
Jika saja publikasi perhelatan tahunan itu dikemas dengan baik, ia yakin festival akan mendapat perhatian banyak penonton, meskipun yang tampil mayoritas seniman lokal. “Banyak seniman lokal Jawa Timur yang karyanya telah diakui secara nasional tapi kurang dikenal karena institusi kesenian Jawa Timur tidak bisa mengkomunikasikannya kepada pada publik lokal,” katanya. YEKTI HM

Rabu, 04 Juni 2008

Naskah Grup Teater Sumber Rejeki

ASU!
(Aku Juga)
Karya: Ki Mashuri Sukodadi


Di bawah tenda besar, dua orang sedang menunggu. Musik sunyi. Kadang-kadang terdengar desau angin. Lampu temaram

A: Kita seperti orang asing
B: Tidak! Kita diasingkan.
A: Kamu selalu saja menyalahkan.
B: tidak, karena kita sama-sama salah


A: ataukah kita sedang menunggu sesuatu
B: memang kita sedang menunggu, dan kita sama sekali tak tahu siapa yang kita tunggu.
A: aku tahu, iblis
B: kini, kau salah. Jika kau tuduh aku selalu saja menyalahkan, kini kau selalu saja menyalahkan.
A menatap B dengan pandangan tak mengerti.
A: kita menunggu maut!
B: klise! (memandang ke arah lain) kita sudah mati!
A: kalau bukan maut, lalu apa? Meski kita sudah mati, tapi maut tetap saja bekerja!
B menatap ke atas
B: aku tahu, kita sedang menunggu malaikat
A: tapi kita sudah mati! Dan malaikat tak diperlukan lagi

Musik requiem

A: kita memang berada di lahat. Lihatlah tak ada apa-apa, kecuali nafas kita sendiri yang diam dan menggumpal. Lihatlah, kita dibebaskan dari beban lama kita, ingatan-ingatan kita.
B: kau belum bebas, kau masih ingat istrimu!
A: Itu soal lain, ia terlalu cantik untuk dilupakan, meski ia suka selingkuh. Tapi aku tak lagi berbeban, kecuali soal dendam!
B: kau memang tak seperti aku
A: kau yang tak seperti aku!
B: kau memang tak mau mengalah!
A: kau yang tak mau mengalah!


B: Oke, kawan karib. Aku tak mau mengalah, tapi aku ingin mengalah. Karena aku telah mengalah, tolong jawab, kita sedang menunggu apa.
A: kita tak seasing seperti yang kau pikirkan. Kita saling kenal bukan? Pertanyaanmu terlalu lugu. Cobalah membuat pikirna-pikiran lain, kecuali untuk mencari kepastian.
B: Kita menunggu iblis!
A: itu kataku.
B: kita menunggu malaikat?
A: Itu katamu
B: terus?

A: aku punya gagasan, bagaimana kita menunggu sesuai dengan pikiran-pikiran kita. Kau menunggu malaikat dan aku menunggu iblis. Kita bebaskan saja pencarian kita. Meski untuk sementara atau untuk seterusnya, kurasa aku ingin memiliki diriku sendiri. Kukira kau juga begitu?
B: oke! Aku setuju meski dengan beberapa catatan. Tapi haruskah ita bersetuju, sedangkan di sini tidak ada orang lain. Jika kita saling bersetuju, jelas tak akan ada apa-apa di sini. Kita seharusnya saling asing, sehingga kita bisa mencipta sesuatu di sini.
A: kamu memang bijaksana
B: tak ada kebijaksanaan di sini. Semua orang berharap ada yang salah. Soalnya kita tak berada di atas, kita sedang berada di bawah, di bawah seluruh batas. Dan kamu selalu saja tak mau mengalah, meski kau bersalah dan selalu berharap kesalahan dari aku.


B: bagaimana kita bisa tahu, bahwa pikiran kita memberi kebebasan dan kekuatan pada kita, dan menumbuhkan keyakinan pada diri kita bahwa kita menunggu sesuatu.
A: kenapa sesuatu, pastikan.
B: malaikat!
A: mudah! Sebut saja nama malaikat dengan terpejam dan kau akan merasakan kehadirannya.
B: kehadiran? Begitu juga dengan iblis?
A: ya!
B: bagaimana kau bisa tahu dan memastikan.
A: kini aku tahu pikiranmu, kau terus mencobai aku dengan sesuatu yang kita sama-sama sudah tahu. Tidak bisakah kau memahamiku seperti dulu, sebelum kita sama-sama tersesat di sini, dan sedikit mengharap ada sesuatu yang datang dan merubah arah perjalanan.
B: kini kau suka mengeluh. Aku hanya ingin tahu bagaimana kau bisa tahu dan memastikan soal apa yang kita tunggu.

Hening
A: malaikat? (B mengangguk) itu urusanmu. Kita sudah mati. Aku sudah berjumpa dengannya, bukankah saat kau mati, kau melihatnya?
B: aku melihat, tapi tak bisa memastikan. Kini aku ingin memastikan, seperti kau.
A: Sudah kubilang, sebut saja namanya dan kau akan merasakan kehadirannya. Meski kehadirannya itu hanya warna atau bayang, meski kehadirannya jauh dari apa yang pernah kau pikirkan.
B: oke aku akan mencoba.
B terpejam, ia lalu berguman
tenda berwarna biru.
A: lihatlah, ia sudah datang. Tapi aku tak suka kehadirannya. Kau tahu, dia bukan yang aku tunggu, hentikan atau kau terus saja berjalan dan kau tinggalkan aku di sini.
Tenda kembali dalam kondisi semula.
B: (membuka mata) Ah, tak ada apa-apa. Ia tetap tidak hadir. Kau telah berbohong kepadaku. Ternyata perangaimu masih tetap sama. Ah kau masih saja dihantui istrimu, bukankah kita sudah dibebaskan dan harus melepaskan ingatan. Aku tahu kau masih dendam.

A diam, kening berkerut, ia berjalan hilir mudik. Digoyang-goyangnya tiang tenda. Ada kegelisahan.
A: aku tadi melihatnya, jika kau tak percaya, itu urusanmu, atau aku akan merobohkan persinggahan kita. Ah, kucari dulu, biar kau percaya, tapi apa urusanku. Toh aku tak suka dengan kehadirannya. Kau memang tak pernah percaya kepadaku. Kau memang…
A lalu duduk. Memejamkan mata. Ia mulai berguman. Tenda berubah merah.
B: ah, aku suka yang ini, ada apa gerangan, benarkah ini . Inikah iblis yang kau puja. O, aku suka, aku suka, aku suka!
Tenda mendadak gelap. Hitam berdiwana.

B: kenapa gelap? Hai A, kemana kau, di mana suaramu.

Tenda terang, tinggal B sendiri.

B: Kau pergi, entah kau sudah sampai, hilang, atau kau bersembunyi. Aku tak peduli. Aku sudah lama berada di jalan dan aku tak pernah mendapatkan jawaban. Jika aku masuk ke kematian, aku akan tahu ada yang tak kutahu, ternyata di sinilah yang tak kutahu. Di balik kehadirannya, aku menemukan sisi yang tak bisa kuindrai begitu saja. Aku menemukan diriku sendiri, aku menemukan!
Iblis! Ya pada iblis sepertinya aku harus berguru. Ia telah mengajarkan banyak hal. Ah, kenapa dulu aku sering mendengarkan orang-orang yang mengutuhkanya, kenapa dulu aku sering menyalahkannya. Ia lebih berjiwa, ia lebih menjanjikan …

Black out

A: aku tak membenci malaikat. Aku tak bisa membenci makhluk Tuhan. Aku bukan Musa, ketika ia kedatangan malaikat maut lalu menamparnya. Aku tak sekuat dia. Aku juga asu!

Jumat, 23 Mei 2008

Beberapa Komentar Lagi

/1/
Penyair paling mutakhir, F. Aziz Manna. Wartawan nakal dengan puisi binal. Puisinya kaya dengan kelincahan ritmik yang beberapa tahun terakhir ini dalam sastra Indonesia jarang dijumpai karena dianggap sebagai sejenis permainan kurang serius. Sungguh pemikiran yang menggelikan. Puisi Aziz Manna merupakan teladan tentang kecerdikan tipografi, keutuhan nuansa, akurasi, ritme, transformasi makna ke dalam narasi, kesetiaan pada gaya, dan keberanian. Meski jelas masih ada kesembronoan disana-sini, tapi bisa dimaklumi karena garis besar penampilan puitiknya memberikan cita rasa tersendiri.
Dimulai dengan Bismillah, keindahannya langsung terasa dengan harmoni terukur rapi dan santri. Rumah yang menghadap rel kereta, tidak diragukan lagi menunjukkan persepsi lingkungan yang tajam dan kesentausaan urban hadir dengan waktu yang menggilir perubahan sosial; sejak semula sejarah// sepertinya aku mendengarmu// mengisyratkan sesuatu// dekat, lekat pada pintu. Dalam Lumpur Kata tergambar bagaimana sebuah sajak muncul begitu saja apabila penyair memiliki kepekaan yang sangat kuat atas apa yang terjadi disekitarnya, yang jelas; apa yang kau rasa// seluruhnya// benar apa adanya. Kemerdekaan kaum urban pinggiran dalam menikmati setiap jengkal kota seringkali lebih kaya dan melewati pemahaman seorang perencana tata ruang atau pengusa kapital yang melihat sesuatunya dengan skematis. Indische, perasaan post-kolonial yang berpadu dengan keingin-tahuan masa kanak-kanak. Tidak istimewa tapi menyegarkan.Yang istimewa, Cerita Bapak. Karya ini tidak berpretensi menjadi hyper-ballad, hanya saja orang tidak bergidik melihat sejarah revolusi yang gagal di negeri ini pada masa itu sebagaimana digambarkan puisi tersebut jelas tidak lebih manusiawi dibanding ‘sebongkah batu dibawah pohon akasia’. Singkatnya, puisi-puisi Aziz Manna memberikan kenikmatan membaca yang dapat dipahami sesuai dengan tingkat pembacaan masing-masing konsumen.(Nu’man “Zeus” Anggara dalam tulisan Zaman Di Sebuah Warung Kopi)

/2/
Membaca “Siti Surabaya” F. Aziz Manna, saya dapati adalah semacam pakai formula, tapi tidak se-formulaik baku pantun tentunya. Sebelum sampai simpulan:

semua meninggalkan
seperti laut yang surut
ah anakku, prajuritku
dengar-lihatlah
laut masih gemuruh
lajulah laju perahu
lajulah laju

Siti lahir dan bertualang sepanjang lima halaman lebih, dari keluarga sampai dengan dermaga, menghabiskan waktu dan tenaga, untuk memroses dan melewati lorong waktu. Dari Siti Jamilah (atau “indah” sebagai lambang inosensi) sampai menjadi Siti di dermaga (siap berangkat lagi). Dalam memroses dan melorong waktu itulah saya bandingkan dengan “sampiran”. Tapi jika sampiran pantun simetris, harmonis, nyaris sempurna, sebanyak dua baris; sampiran “Siti Surabaya” dalam kategori modernisme: asimetris, disharmoni, kemungkinan chaos.

Bayangan visual: seluruh petualangan Siti Surabaya/Surabaya Siti, paling tidak segala verbal adventures-nya, masuk dalam “food processor” atau “tabung jam pasir” untuk diproses/digiling dan dilorot lorong-sempit-waktu, sehingga meneteskan hikmah. Dan hikmah tidak harus menunggu sampai simpulan di bait akhir, justru di tengah proses dan lorong sempit waktu hikmah itu menetes-netes sepanjang petualangan: Siti Surabaya = Surabaya Siti (plesetan dari City), bisa kota bisa perempuan, bisa warisan bisa obralan, bisa pesta bisa kuburan. Siti dan City bertarung bertukar, seperti dalam kiasan wayang: mencolo putro mencolo putri, loncat sana loncat sini. “Bajing loncat” bukan sekedar kiasan kriminal tetapi juga kiasan dinamika manusia urban. Dan pilihan ke modernisme harus menanggung takdir anti-kemapanan, paradoksal, kontroversial, provokatif, subversive, atraktif. Sebagaimana wujud seni kontemporer: sebagai bentuk komentar sosial yang mengkonfrontasi publik dengan apa yang tidak mereka ketahui, atau dengan apa yang sebenarnya diketahui tetapi tidak mereka harapkan: Siti kembali merindu jaman dolanan anak-anak:

Ji walang kaji…sutu nang kali bagong nang embong…siti jaluk rabi tak olehna kucing garong (aslinya barangkali “kucing gorang” = kucing kerah, kucing bertengkar); bersanding nyanyian “advertising me”: batang waru buat gagang palu/jangan mulu masuk saja kamarku; Siti dan City jumpalitan; dari Gentengkali sampai Ujung yang Baru; Siti kampungan; nyanyian dangdutan konotasi kampung senukan/pelacuran; Kembang yang Kuning; pasar maling Pasarturi; Tanjung berwarna Perak; City mendengkur Siti ngelindur; Siti tersimpuh…City di belakang punggungnya; semuanya itu terjadi atas kehendak (Kehendak=Takdir?). Simpulan: City berhenti, Siti siap bertolak. (Akhudiat dalam tulisan Mengantar Kumpulan Puisi Mesin & Hantu)

Senin, 17 Maret 2008

Komentar Pentas Teater Keluarga di Media

Pentas Monolog Alibi di Surabaya
Koran Tempo, Senin, 21 Maret 2005

Surabaya - Teater Keluarga dari Surabaya akan menggelar pementasan monolog di Universitas 17 Agustus Surabaya pada Senin (21/3) pukul 19.00. Pentas berjudul Alibi ini merupakan rangkaian pementasan keliling ke beberapa kota di Jawa Timur, seperti di Universitas Brawijaya Malang, Dewan Kesenian Lamongan, dan Dewan Kesenian Bangkalan.

Dalam produksi kali ini, Teater Keluarga berkolaborasi dengan beberapa pekerja teater yang selama ini meramaikan dunia teater Surabaya, seperti sutradara S. Jai, mantan pekerja teater dari Bengkel Muda Surabaya, aktor F. Azis Manna dari Teater Gapus Fakultas Sastra Universitas Airlangga, serta beberapa pekerja teater dan pemerhati seni dan teater di Surabaya.

Lakon ini menuturkan masalah korupsi, dengan perspektif keluarga. Dari ihwal keluarga, yang mendasar pada peran bapak, dimulailah persentuhan dengan simpul-simpul kehidupan. Tentang hubungan antara bapak dan anak, istri, tetangga, masyarakat, negara, ilmu pengetahuan, bahkan dengan kebudayaan.

Konsep teater berdurasi 180 menit ini adalah "teater tutur" yang mengadopsi beberapa model pertunjukan tradisional, seperti konsep dalang, terutama wayang kulit dan kentrung. Berbagai ornamen pertunjukan tradisional dilibatkan, seperti masuknya jejer dan suluk.(f dewi ria utari)

Komentar Tentang F Aziz Manna

Kesederhanaan, Bahasa Puisi, dan Imajisme
Oleh Indra Tjahyadi

Bahasa puisi memanglah bahasa yang indah. Akan tetapi, ia tidaklah harus berarti hiperbolis. Dalam kata lain bahasa puisi, bisa saja terjadi dari bahasa-bahasa yang terkesan sederhana sekali. Misalnya dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, Emily Dickinson, Joko Pinurbo atau Ezra Pound.
Dalam puisi-puisi karya mereka, bahasa yang hadir seakan-akan mencerminkan suatu kesederhanaan, tanpa adanya usaha untuk melebih-lebihkan, pendeknya: terkesan non-hiperbolis. Meskipun demikian, hal ini tidaklah dapat secara serampangan dikatakan bahwa puisi-puisi mereka minim imaji. Sebab dengan memaksimalkan kesederhanaan berbahasa, imaji-imaji yang muncul dalam puisi-puisi mereka justru terkesan tajam dan tidak basa-basi.
Ini adalah hal yang mengherankan. Seperti juga yang terlihat pada puisi Bertolt Brecht yang berjudul ”Schicke mir ein Blatt” (”Tinggalkan Sehelai Daun Untukku):
Bila kau pergi merantau
Berangkatlah, aku akan terus
Menantimu di sini.
Namun tinggalkan sehelai daun
Untukku, yang kau petik dari
Ranting pohon mawar di jendela
Kamarmu.
Agar aku tidak terlalu rindu.
(1996: 9)
Kesan yang sama, dalam lapangan perpuisian Indonesia saat ini, juga dapat ditemui dalam puisi-puisi karya Medy Loekito. Salah satunya pada puisinya yang berjudul ”Iowa River”:
mengalir sungai
pada angin yang memberi
mengalir waktu
pada usia yang mencari
(2003: 132).
Nama Medy Loekito adalah sebuah nama yang tidak asing lagi dalam lapangan perpuisian Indonesia saat ini. Ia bahkah terhitung salah satu dari sekian nama besar penyair perempuan Indonesia terkini. Meskipun bahasa yang digunakan dalam puisi-puisinya, seperti pada puisinya di atas, terkesan sederhana. Akan tetapi ia dapat dengan maksimal mengimajikan apa yang ia tangkap dari sebuah sungai Iowa. Begitu juga pada puisi-puisi karya F. Azis Manna dalam kumpulan puisinya Kumelambungkan Cintaku (Gapus, 2003). Cobalah saja tengok puisinya yang berjudul ”Surau”:
suara itu begitu akrab didengar
tanpa sadar, ia menirukannya
pelan-pelan dan tertahan—
ia teringat ayahnya
waktu dikuburkan.
(2003: 9)
Kesederhanaan bahasa puisi disertai penukikan ke alam imaji yang demikian ketat, yang diperlakukan oleh Bertolt Brecht, Medy Loekito ataupun F. Azis Manna melalui puisi-puisinya tersebut jelas-jelas mengingatkan saya pada gagasan puisi Imajis.
Dalam puisi Imajis, pemaksimalan minimalitas bahasa dibarengi dengan penukikan ke arah imaji. Sehingga bahasa puisi terkesan hadir dengan semangat kesederhanaannya. Dick Hartoko dan B. Rahmanto dalam bukunya Pemandu di Dunia Sastra berpendapat bahwa pada puisi-puisi aliran Imajis ini terdapat sebuah pengaruh dari simbolisme Prancis, puisi-puisi Cina dan juga puisi haiku Jepang (1986: 63). Untuk kasus pengaruh puisi haiku Jepang dalam puisi Imajis, yang digunakan bukanlah acuan persajakan-persajakan yang telah tetap dan konvensional, melainkan tenaga-tenaga asasi yang telah menghidupi puisi haiku Jepang.
Hal ini disebabkan, merujuk pada Subagio Sastrowardoyo, kebanyakan penyair Imajis memang telah menerima pengaruh persajakan haiku. Hal ini, menurutnya, diperlihatkan pada kehematan dalam menyampaikan ekspresi pada puisi-puisi Imajis, serta pembatasan pada satu kesan atau perasaan saja yang juga menjadi asas pengucapan sajak haiku Jepang.
Pada larik-larik puisi karya F. Azis Manna tersebut dapatlah dilihat kelugasan bahasa yang dipergunakan F. Azis Manna dalam puisinya tersebut, guna untuk menghadirkan imaji. Hal ini menimbulkan efek kesan bahwa puisi F. Azis Manna tersebut hadir dengan bahasa yang biasa. Meskipun demikian hal tersebut bukan berarti mengurangi ketajaman imaji yang coba untuk dihadirkan oleh F. Azis Manna dalam puisinya tersebut.
Kesan penggunaan bahasa yang biasa, dalam artian tidak hiperbolis, pada puisi F. Azis Manna yang berjudul ”Surau” tersebut justru menimbulkan efek gambaran imaji yang tajam. Keinginan F. Azis Manna untuk menghadirkan gambaran imaji tentang seorang anak pada penguburan ayahnya ketika ia mendengar suara adzan, justru hadir secara tepat dengan penggunaan bahasa yang terkesan biasa dalam puisinya tersebut.
Hal ini mengingatkan saya pada teori ”a direct treatment of the thing” dari gagasan puisi Imajis. Maksudnya, bahwa dalam puisi-puisi Imajis, gambaran imaji hendaknya bersifat tajam, tepat dan mampu menimbulkan kontak dengan ”the thing”. Dan untuk mencapai hal tersebut, puisi-puisi Imajis memakai bahasa yang biasanya terkesan biasa, dan bebas dari paksaan metrum.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Subagio Sastrowardoyo, dalam bukunya yang berjudul Bakat Alam dan Intelektualisme (1983: 13) berpendapat, bahwa hal tersebut di atas terjadi karena puisi-puisi Imajis menginginkan agar puisi dapat meng-image kesan-kesan dan perasaan, yakni dengan membayangkan pengalaman-pengalaman tersebut secara konkret dan keinderaan dengan pemberian batas-batas lukisan yang jelas dan tegas.
Dalam puisi Imajis bayangan dunia lahir harus diterima di dalam yang lahir itu juga. Dalam puisi Imajis, bayangan yang objektif dan keinderaan sering tidak memperkenankan penafsiran kepada makna-makna yang abstrak. Subagio Sastrowardoyo berpendapat, bahwa hal tersebut dikarenakan subjek puisi Imajis cenderung mencukupkan diri pada satu kesan atau perasaan saja dengan tidak disangkutkan pada pengalaman-pengalaman yang lebih luas dan dalam (1983: 14).
Sampai di sini, saya tiba-tiba teringat dengan salah satu puisi karya Gu Cheng, salah seorang penyair terkenal RRC, yang berjudul ”Garis Lengkung”:
Seekor unggas di tengah badai
Cepet-cepat mengubah arah
Seorang remaja memungut
Satu sen
Dalam fantasi pohon-pohon anggur
Menjulurkan belalainya
Ombak ketika surut
membungkukkan punggungnya
(Kalam, edisi 4-1995: 125).
Keinginan yang menggebu dari Gu Cheng untuk menghadirkan gambaran imaji tentang garis lengkung dalam puisinya tersebut tidak memperkenankan munculnya interpretasi yang abstrak atas bayangan objektif dan keinderaan yang ingin disampaikannya. Sehingga gambaran imaji sebuah garis lengkung yang ingin dihadirkan Gu Cheng pada puisinya yang berjudul ”Garis Lengkung” tersebut menimbulkan pemahaman bahwa bayangan dunia lahir harus diterima di dalam dunia lahir itu juga.
Meskipun Imajis menyukai puisi-puisi yang pendek dengan mempergunakan kata-kata yang setepat-tepatnya dan sehemat-hematnya, serta cenderung untuk menekankan diri pada pengalaman konkret, bukanlah berarti bahwa puisi-puisi Imajis telah kehilangan daya kontemplatif sebuah puisi.
Dengan penggunaan puisi-puisi yang pendek dan tajam sifatnya, serta adanya keyakinan dalam puisi Imajis bahwa inti sari sebuah puisi adalah konsentrasi, justru membuat puisi-puisi Imajis hadir dengan daya kontemplatif puisi yang tak kalah besar dan tingginya. Bahkan hal tersebut bagi pembacanya, dalam menghadapi puisi-puisi Imajis, demikian mungkin untuk tidak dapat menghindarkan diri dari penafsiran yang abstrak, bersifat religi atau filsafat, karena terbawa oleh suasana dan angan-angan yang dihidupkan di dalam diri pembaca oleh bayangan di dalam puisi. Seperti yang terlihat puisi karya F. Azis Manna, dalam kumpulannya tersebut, yang berjudul ”Senggama”:
ranting
patah
jatuh
menancap di tanah
sunyi tertembus suara
(2003: 8).
Atau juga pada puisinya yang berjudul ”Uzlah I”:
musim kemarau datang
dari selatan angin kencang
meliuk di dahan
menerbangkan bulu-bulu
bunga randu
seorang tua di tepi jalan raya
(2003: 10).
Meskipun kedua puisi karya F. Azis Manna tersebut pendek (masing-masingnya berisi 5 larik dan satunya lagi 2 bait dengan bait terakhir yang hanya berisi 1 larik), pun dengan bahasa yang terkesan minim hiperbolis sekali, akan tetapi dengan daya konsentrasi yang tinggi yang diakibatkan oleh tajamnya gambaran imaji yang coba dihadirkan oleh F. Azis Manna dalam kedua puisinya tersebut, membuat puisi-puisi karya F. Azis Manna tersebut hadir dengan daya kontemplatifnya yang demikian terasa kuat.
Pada akhirnya, bahasa puisi tidaklah melulu selalu menggunakan bahasa yang hiperbolis, melainkan lewat kesederhanaannya pun sebuah puitisasi bisa saja terjadi seperti yang terlihat pada puisi-puisi dengan gaya. Meskipun puisi Imajis ini, pada mulanya, hadir sebagai reaksi terhadap kesamar-samaran romantik dan unsur emosionalitas yang teramat besar pada khazanah perpuisian pada masa Perang Dunia (PD) I. Dan pada mulanya, ia merupakan sebuah gerakan dalam puisi dan kritik sastra di Inggris dan Amerika menjelang PD I. Puisi Imajis ini dipengaruhi oleh T.E. Hulme dan dikembangkan oleh Ezra Pound. Selain kedua nama tersebut, Imajis juga diwakili oleh Amy Lowell, Richard Aldington, Hilda Doolittle, Jhon Goold Fletcher dan FS Flint. ***

Indra Tjahyadi, penyair, esais, Staf Pengajar di Fakultas Sastra & Filsafat Universitas Panca Marga, Probolinggo.